Translate

Selasa, 07 Februari 2012

ISPA (infeksi saluran pernafasan akut)

Gambar 2.2.1. Anatomi Saluran Pernafasan Berdasarkan Lokasi Anatomik
2.1. Definisi ISPA9,10
TINJAUAN PUSTAKA

Menurut DepKes RI (1998) Istilah ISPA meliputi tiga unsur yaitu infeksi, saluran pernafasan

dan akut. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan

berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit. Saluran pernafasan adalah organ yang

dimulai dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga

telinga tengah dan pleura. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14

hari.
Dengan demikian ISPA adalah infeksi salluran pernafasan yang dapat berlangsung sampai 14

hari, dimana secara klinis suatu tanda dan gejala akut akibat infeksi   yang   terjadi  di 

setiap   bagian  saluran   pernafasan  atau   struktur   yang berhubungan dengan saluran

pernafasan yang berlangsung tidak lebih dari 14 hari. Batas 14 hari diambil untuk

menunjukkan berlansungya proses akut.
Menurut Corwin (2001), infeksi saluran pernafasan akut adalah infeksi yang disebabkan oleh

mikroorganisme termasuk common cold, faringitis, radang tenggorokan, dan laringitis.



2.2. Klasifikasi ISPA4

2.2.1. Klasifikasi ISPA Berdasarkan Lokasi Anatomi

Berdasarkan lokasi anatomik ISPA digolongkan dalam dua golongan yaitu : Infeksi Saluran

Pernafasan atas Akut (ISPaA) dan Infeksi Saluran Pernafasan bawah Akut (ISPbA).

a.   Infeksi Saluran Pernafasan atas Akut (ISPaA)

Infeksi Saluran Pernafasan atas Akut (ISPaA) adalah  infeksi yang menyerang hidung  sampai 

bagian  faring  seperti :  pilek,  sinusitis,  otitis  media  (infeksi pada telinga

tengah), faringitis (infeksi pada tenggorokan). Infeksi saluran pernafasan atas digolongkan

ke dalam penyakit bukan pneumonia.
b.  Infeksi Saluran pernafasan bawah Akut (ISPbA)

Infeksi Saluran Pernafasan bawah Akut (ISPaA) adalah   infeksi yang menyerang  mulai dari

bagian epiglotis atau laring sanpai dengan alveoli, dinamakan sesuai dengan organ saluran

nafas, seperti : epiglotitis, laryngitis, laryngotrachetis, bronchitis, bronchiolitis dan

pneumonia.


2.2.2.   Klasifikasi ISPA Berdasarkan Kelompok Umur11

Program  Pemberantasan  ISPA  (P2  ISPA)  mengklasifikasi  ISPA  sebagai berikut :
a.         Kelompok umur kurang dari 2 bulan, diklasifikasikan atas :

a.1.      Pneumonia berat : apabila dalam pemeriksaan ditemukan adanya penarikan yang kuat

pada  dinding dada bagian bawah ke dalam dan adanya nafas cepat, frekuensi nafas  60 kali

per menit atau lebih.
a.2.      Bukan pneumonia (batuk pilek biasa) : bila tidak ditemukan tanda tarikan yang

kuat dinding dada bagian bawah ke dalam dan tidak ada nafas cepat, frekuensi nafas kurang

dari 60 kali per menit.
b.        Kelompok umur 2 bulan - <5 tahun diklasifikasikan atas :

b.1.      Pneumonia  berat  :  Apabila  dalam  pemeriksaan  ditemukan  adanya  tarikan

dinding dada bagian bawah kedalam.
b.2.      Pneumonia : tidak ada tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam, adanya nafas

cepat, frekuensi nafas 50 kali atau lebih pada umur 2 – <12 bulan dan 40 kali per menit

atau lebih pada umur 12 bulan – <5 tahun.
b.3.      Bukan pneumonia : tidak ada tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam, tidak ada

nafas cepat, frekuensi nafas kurang dari 50 kali per menit pada anak umur 2  – <12 bulan

dan kurang dari 40 kali permenit 12 bulan – <5 tahun.

2.3. Infectious Agent5,12,13
Infectious ISPA terdiri lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan riketsia. Bakteri penyebab

ISPA antara lain adalah dari genus Strepcococcus, Stafilococcus, Pneumococcus, Haemophylus,

Bordetella, dan Corynebakterium. Virus penyebab ISPA terbesar   adalah virus pernafasan

antara lain adalah group   Mixovirus (Orthomyxovirus ; sug group Influenza virus,

Paramyxovirus ; sug group Para Influenza virus dan Metamixovirus; sub group Rerpiratory

sincytial virus/RS-virus), Adenovirus, Picornavirus, Coronavirus, Mixoplasma, Herpesvirus.

Jamur Penyebab ISPA antara lain Aspergilus SP, Candida albicans, Histoplasma. Selain itu

ISPA juga dapat disebabkan oleh karena aspirasi : makanan, Asap kendaraan bermotor, BBM

(Bahan Bakar Minyak) biasanya minyak tanah, benda asing (biji-bijian).



2.4. Cara Penularan Penyakit ISPA12,14
Bibit penyakit ISPA berupa jasad renik ditularkan melalaui udara. Jasad renik yang berada

di udara akan masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernafasan dan menimbulkan infeksi,

penyakit ISPA dapat pula berasal dari penderita yang kebetulan mengandung bibit penyakit,

baik yang sedang jatuh sakit maupun karier. Jika jasad renik bersal dari tubuh manusia maka

umumnya dikeluarkan melalui sekresi saluran pernafasan dapat  berupa saliva dan sputum.

Penularan juga dapat  terjadi melalui kontak langsung/tidak langsung dari benda yang telah

dicemari jasad renik (hand to hand transmission).Oleh Karena salah satu penularan melalui

udara yang tercemar dan masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernafasan , maka penyakit

ISPA termasuk golongan Air Borne Diseases.



2.5. Tanda dan Gejala ISPA 11
Penyakit ISPA pada anak dapat menimbulkan bermacam-macam tanda dan gejala seperti batuk,

kesulitan bernafas, sakit tenggorokan, pilek, sakit telinga dan demam.

2.5.1. Gejala dari ISPA Ringan

Seseorang anak dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan satu atau lebih gejala-

gejala sebagai berikut :
a.   Batuk

b.   Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara (misalnya pada waktu

berbicara atau menangis)
c.   Pilek, yaitu mengeluarkan lendir atau ingus dari hidung d.   Panas atau demam, suhu

badan lebih dari 370C

2.5.2. Gejala dari ISPA Sedang
Seseorang anak dinyatakan menderita ISPA sedang jika dijumpai gejala dari ISPA ringan

disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut :

a.   Pernafasan cepat (fast breating) sesuai umur yaitu : untuk kelompok umur kurang dari 2

bulan  frekuensi nafas  60 kali per menit atau lebih dan  kelompok umur 2 bulan - <5 tahun

:  frekuensi nafas 50 kali atau lebih untuk  umur 2 – <12 bulan dan 40 kali per menit atau

lebih pada umur 12 bulan – <5 tahun.
b.   Suhu lebih dari 390C (diukur dengan termometer)
c.   Tenggorokan berwarna merah
d.   Timbul bercak-bercak merah pada kulit menyerupai bercak campak
e.   Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga
f.   Pernafasan berbunyi seperti mengorok (mendengkur)

2.5.3. Gejala dari ISPA Berat
Seseorang anak dinyatakan menderita ISPA berat jika dijumpai gejal-gejala ISPA ringan atau

ISPA sedang disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut :

a.   Bibir atau kulit membiru
b.   Anak tidak sadar atau kesadaran menurun
c.   Pernafasan berbunyi seperti mengorok dan anak tampak gelisah d.   Sela iga tertarik

kedalam pada waktu bernafas
e.   Nadi cepat lebih dari 160 kali per menit atau tidak teraba f.   Tenggorokan berwarna

merah

2.6. Epidemiologi Penyakit ISPA

2.6.1. Distribusi dan Frekuensi Penyakit ISPA
Epidemiologi penyakit ISPA yaitu mempelajari frekuensi, distribusi penyakit ISPA serta

Faktor-faktor (determinan) yang mempengaruhinya. Dalam distribusi penyakit ISPA ada 3 ciri

variabel yang dapat dilihat yaitu variabel orang (person), variabel tempat (place), dan

variabel waktu (time).

a. Menurut Orang (person)
ISPA merupakan penyakit  yang sering terjadi pada anak-anak. Daya ahan tubuh anak sangat

berbeda dengan orang dewasa karena sistem pertahanan tubuhnya belum kuat. Apabila di dalam

satu rumah ada anggota keluarga terkena pilek, anak- anak  akan lebih  mudah tertular.

Dengan kondisi anak  yang  masih  lemah, proses penyebaran penyakit menjadi lebih cepat.

ISPA merupakan penyebab utama kematian pada bayi dan balita di Indonesia. Menurut para ahli

hampir semua kematian ISPA pada bayi dan balita umumya disebabkan oleh ISPA bawah. Infeksi

Saluran Pernafasan atas  Akut  (ISPaA)  mengakibatkan kematian pada  anak  dalam  jumlah

kecil, tetapi menyebabkan kecacatan seperti otitis media yang merupakan penyebab ketulian

sehingga dapat mengganggu aktifitas belajar pada anak.

Berdasarkan data SKRT 2001, menunjukkan bahwa proporsi ISPA sebagai penyebab kematian bayi

< 1 tahun adalah 27,6% sedangkan proporsi ISPA sebagai penyebab kematian anak balita 

22,68%. 5
Hasil survei program P2ISPA di 12 propinsi di Indonesia (Sumatera Utara,
Sumatera Barat, Bengkulu, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan

Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara  Timur,  dan  Nusa

 Tenggara  Barat)  selama  kurun  waktu  2000-2002 prevalensi ISPA terlihat berfluktuasi,

tahun 2000 prevalensi sebesar 30,1% (479.283 kasus),    tahun 2001  prevalensi    sebesar 

22,6%  (620.147  kasus)  dan tahun 2002 pervalensi menjadi 22,1% (532.742 kasus)

b. Menurut Tempat (place)
ISPA  masih  merupakan  masalah  kesehatan  baik  di  negara  maju  maupun negara 

berkembang.  Dalam  satu  tahun  rata-rata seorang  anak  di pedesaan  dapat terserang ISPA

tiga kali, sedangkan daerah perkotaan sampai enam kali.17
Dari pengamatan epidemiologi dapat diketahui bahwa angka kesakitan ISPA di kota cenderung

lebih besar daripada di desa. Hal ini mungkin disebabkan oleh tingkat  kepadatan tempat 

tinggal dan pencemaran  lingkungan di kota yang  lebih tinggi daripada di desa.13

c. Menurut Waktu (time)
Berdasarkan Data SKRT (1986-2001), bahwa proporsi kematian karena ISPA di Indonesia pada

bayi dan balita menunjukkan penurunan dan peningkatan yaitu pada bayi pada tahun 1986

dengan PMR 18,85%, tahun 1992 PMR 36,40%, tahun 1995 PMR 32,10% dan tahun 2001 PMR 27,60%.

Sementara  pada balita pada tahun1986 PMR 22,80%, tahun 1992 PMR 18,20%, tahun 1995 PMR

38,80% dan tahun 2001 PMR 22,80%.5

2.6.2. Determinan Penyakit ISPA
a. Faktor Agent (Bibit Penyakit)
Proses  terjadinya  penyakit  disebabkan  adanya  interaksi  antara  agent  atau faktor

penyebab penyakit, manusia sebagai pejamu atau host dan faktor lingkungan yang   mendukung 

(environment).   Ketiga   faktor  tersebut   dikenal  sebagai  trias penyebab penyakit. 

Berat  ringannya penyakit  yang  dialami amat  ditentukan oleh sifat-  sifat  dari

mikroorganisme sebagai penyebab penyakit  seperti :  patogenitas, virulensi, antigenitas,

dan infektivitas. 15
Infeksi Saluran Pernafasan atas Akut  (ISPaA) seperti Faringitis dan Tonsilitis akut  

dapat disebabkan oleh karena infeksi  virus, bakteri ataupun jamur. Setengah dari infeksi

ini disebabkan oleh virus yakni virus influenza, parainfluenza, adeno virus, respiratory

sincytial virus dan rhino virus.18

b. Faktor Host (Pejamu)

b.1. Umur
Umur mempunyai pengaruh yang cukup besar untuk terjadinya ISPA. Oleh sebab  itu  kejadian 

ISPA  pada  bayi  dan  anak  balita  akan  lebih  tinggi  jika dibandingkan dengan orang

dewasa. Kejadian ISPA pada bayi dan balita akan memberikan gambaran klinik yang lebih berat

dan jelek, hal ini disebabkan karena ISPA pada bayi dan anak balita umumnya merupakan

kejadian infeksi pertama serta belum  terbentuknya  secara  optimal  proses  kekebalan 

secara  alamiah.  Sedangkan orang dewasa sudah banyak terjadi kekebalan alamiah yang  lebih

optimal akibat pengalaman infeksi yang terjadi sebelumnya.12
Hasil survei kesehatan Rumah tangga (SKRT) tahun 1992 menunjukkan prevalensi ISPA untuk

bayi 42,4% dan anak umur 1-4 tahun 40,6% sedangkan Case Spesific Death Rate (CSDR)  karena

ISPA pada bayi 21% dan untuk anak 1-4 tahun
35%.19

b.2. Jenis Kelamin
Berdasarka hasil penelitian dari berbagai negara termsuk Indonesia dan berbagai publikasi

ilmiah, dilaporkan berbagai faktor risiko yang meningkatkan insiden ISPA adalah anak dengan

jenis kelamin laki-laki. 5
Berdasarkan hasil penelitian Ruli Handayani Kota Palembang Tahun 2004, dengan desain

Prospectice Cohort Study  berdasarkan hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan antara

jenis kelamin dengan kejadian gangguan saluran pernafasan diperoleh p value = 0,089 dan

diperoleh   nilai Relative Risk (RR) 1,77 (CI 95% :
1,162-2,716)  artinya  risiko  anak  laki-laki  terkena  gangguan  saluran  pernafasan

sebesar 1,77 dibandingkan dengan anak perempuan.20

b.3. Status Gizi
Salah satu faktor yang mempengaruhi status gizi anak adalah makanan dan penyakit infeksi

yang mungkin diderita oleh anak. Anak yang mendapat makanan baik  tetapi  sering  diserang 

penyakit  infeksi  dapat  berpengaruh  terhadap  status gizinya. Begitu juga sebaliknya

anak yang makanannya tidak cukup baik, daya tahan tubuhnya pasti lemah dan akhirnya

mempengaruhi status gizinya. Gizi kurang menghambat reaksi imunologis dan berhubungan

dengan tingginya prevalensi dan beratnya penyakit infeksi.21
Keadaan gizi yang buruk muncul sebagai faktor resiko yang penting untuk terjadinya penyakit

infeksi. Dalam keadaan gizi yang baik, tubuh mempunyai cukup kemampuan untuk mempertahankan

diri terhadap infeksi. Jika keadaan gizi menjadi buruk maka reaksi kekebalan tubuh akan

menurun yang berarti kemampuan tubuh mempertahankan diri terhadap serangan infeksi menjadi

turun. Oleh karena itu, setiap bentuk  gangguan gizi sekalipun dengan gejala  defisiensi

yang  ringan  merupakan pertanda awal dari terganggunya kekebalan tubuh terhadap penyakit

infeksi. 22

Hasil penelitian Calvin S di wilayah puskesmas Curug Kabupaten Tangerang (2004), dengan

desain cross sectional, berdasarkan hasil analisis bivariat menujukkan ada hubungan antara

status gizi anak balita dengan penyakit ISPA diperoleh nilai  p = 0,001 dan Ratio Prevalens

5,980 (CI 95%; 2,090-17,111). Artinya balita yang mempunyai status gizi tidak baik

merupakan  faktor resiko untuk  terjadinya ISPA. 23 b.4. Berat Badan Lahir
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) ditetapkan sebagai suatu berat lahir yang kurang dari 2500

gram.24    BBLR membawa akibat bagi bayi berupa : daya tahan terhadap  penyakit  infeksi 

rendah,  pertumbuhan  dan  perkembangan  tubuh  lebih lamban, tingkat kematian lebih tinggi

dibanding bayi yang lahir dengan berat badan cukup. 22
Bayi dengan BBLR  sering mengalami penyakit gangguan pernafasan, hal ini disebabkan oleh

pertumbuhan dan pengembangan paru yang belum sempurna dan otot pernafasan yang masih

lemah.24

b.5. Status ASI Eksklusif
ASI (Air Susu Ibu) merupakan makanan bayi yang paling sempurna, bersih dan sehat serta

praktis karena mudah diberikan setiap saat. ASI dapat mencukupi kebutuhan gizi bayi untuk

tumbuh kembang dengan normal sampai berusia 6 bulan). ASI Eksklusif adalah pemberian ASI

saja kepada bayi sampai umur 6 bulan tanpa memberikan makanan/cairan lain.26
ASI  mengandung  gizi  yang  cukup  lengkap  dan  mengandung  imun  untuk kekebalan   tubuh

bayi.   Keunggulan   lainnya,   ASI   disesuaikan   dengan   sistem pencernaan bayi

sehingga zat gizi cepat terserap. Berbeda dengan susu formula atau makanan tambahan yang

diberikan secara dini pada bayi. Susu formula sangat susah diserap usus bayi sehinnga dapat

menyebabkan susah buang air  besar pada bayi.
Proses pembuatan susu formula yang tidak steril menyebabkan bayi rentan terkena diare. Hal

ini akan menjadi pemicu terjadinya kur ang gizi pada anak dan akibat dari kurang gizi  anak

lebih mudah terserang penyakit infeksi. 26
Berdasarkan hasil penelitian Agustama (2008) di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang

(2005) dengan desain cross sectional, berdasarkan hasil analisis bivariat antara status ASI

eksklusif dengan penyakit  ISPA diperoleh nilai p=0,000, Ratio Prevalens  0,2  (di  Kota 

Medan)  sedangkan  di  Kabupaten  deli  Serdang  RP=0,5. Artinya ASI Eksklusif bukan

merupakan faktor resiko untuk terjadinya ISPA. 27

b.6. Status Imunisasi
Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti kebal atau resisten. Anak yang diimunisasi

berarti diberikan kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu. Dalam imunologi, kuman atau

racun kuman (toksin) disebut sebagai antigen. Imunisasi merupakan upaya pemberian ketahanan

tubuh yang terbentuk melalui vaksinasi.28
Imunisasi  bermamfaat  untuk  mencegah  beberapa  jenis  penyakit  infeksi seperti, Polio,

TBC, difteri, pertusis, tetanus dan hepatitis B. Bahkan imunisasi juga dapat  mencegah 

kematian  dari  akibat  penyakit-penyakit  tersebut. Sebagian  besar kasus ISPA merupakan

penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, penyakit yang tergolong ISPA yang dapat

dicegah dengan imunisasi adalah difteri, dan batuk rejan.
Anak balita yang telah memperoleh imunisasi yang lengkap sesuai dengan umurnya otomatis

sudah memiliki kekebalan terhadap penyakit tertentu maka jika ada kuman yang masuk

ketubuhnya secara langsung tubuh akan membentuk antibodi terhadap kuman tersebut.28
Berdasarkan penelitian Munjiah di Kecamatan Inderalaya Kabupaten Ogan Komering Ilir

Sumatera Selatan (2002) dengan desain case control, berdasarkan analisis bivariat

menunjukkan ada hubungan  antara status imunisasi dengan penyakit ISPA diperoleh p = 0,047

dan OR 3,67 (CI 95%; 0,596-14,070) yang berarti bayi dan balita yang mempunyai status

imunisasi tidak lengkap kemungkinan untuk mendapatkan penyakit gangguan saluran pernafasan

3,67 kali dibandingkan dengan bayi dan balita dengan status imunisasi lengkap.25

c. Faktor Lingkungan (Environment)

c.1. Kepadatan Hunian Ruang Tidur
Berdasarkan KepMenkes RI No.829 tahun 1999 tentang kesehatan perumahan menetapkan bahwa

luas ruang tidur minimal 8m2    dan tidak dianjurkan digunakan lebih dari dua orang tidur

dalam satu ruang tidur, kecuali anak dibawah umur 5 tahun. Bangunan   yang   sempit   dan  

tidak   sesuai   dengan   jumlah   penghuninya   akan mempunyai dampak kurangnya oksigen

didalam ruangan sehingga daya tahan penghuninya menurun, kemudian cepat timbulnya penyakit

saluran pernafasan seperti ISPA.29
Kepadatan di dalam kamar terutama kamar balita yang tidak sesuai dengan standar akan

meningkatkan suhu ruangan yang disebabkan oleh pengeluaran panas badan yang akan

meningkatkan kelembaban akibat uap air dari pernapasan tersebut. Dengan demikian, semakin

banyak jumlah penghuni ruangan tidur  maka semakin cepat udara ruangan mengalami pencemaran

gas atau bakteri. Dengan banyaknya penghuni, maka kadar oksigen dalam ruangan menurun dan

diikuti oleh peningkatan CO2 ruangan dan dampak peningkatan CO2 ruangan adalah penurunan

kualitas udara dalam ruangan.29
Hasil penelitian Calvin S di wilayah puskesmas Curug Kabupaten Tangerang (2004), dengan

desain cross sectional, berdasarkan hasil analisis bivariat menujukkan ada hubungan antara

kepadatan hunian ruang tidur anak balita dengan penyakit ISPA diperoleh nilai  p = 0,004

dan Ratio Prevalens 4,930 (CI 95%; 1,682-14,451). Artinya balita yang tinggal dalam rumah

dengan padat penghuni merupakan   faktor resiko
untuk  terjadinya ISPA. 23

c.2. Penggunaan Anti Nyamuk Bakar
Penggunaan  anti nyamuk  sebagai alat  untuk  menghindari gigitan  nyamuk dapat menyebabkan

gangguan saluran pernafasan karena menghasilkan asap dan bau tidak  sedap.   Adanya 

pencemaran  udara  di  lingkungan  rumah  akan  merusak mekanisme pertahanan paru-paru

sehingga mempermudah timbulnya gangguan pernafasan.
Hasil penelitian Calvin S di wilayah puskesmas Curug Kabupaten Tangerang (2004), dengan

desain cross sectional, berdasarkan hasil analisis bivariat menujukkan ada hubungan antara

Pemakaian anti nyamuk bakar dengan penyakit ISPA pada anak balita diperoleh nilai  p =

0,000 dan Ratio Prevalens 4,930 (CI 95%; 1,342-16,115). Artinya balita yang tinggal dalam

rumah yang  menggunakan obat  nyamuk  bakar merupakan  faktor resiko untuk terjadinya

ISPA.23

c.3. Bahan Bakar Untuk Memasak
ISPA merupakan penyakit yang paling banyak di derita anak-anak. Salah satu penyebab ISPA

adalah pencemaran kualitas udara di dalam ruangan seperti pembakaran bahan bakar yang

digunakan untuk memasak dan asap rokok.
Berdasarkan penelitian Safwan di puskesmas  Alai  Kota Padang  Sumatera Barat  (2003),

dengan menggunakan desain case control, berdasarkan analisis bivariat hubungan bahan bakar

minyak tanah/kayu bakar dengan kejadian ISPA pada balita diperoleh nilai p = 0,012 dan Odds

Ratio 2,24 (CI 95%; 1,221-4,089). Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara kepadatan

hunian ruang tidur dengan kejadian ISPA pada balita. Niali OR sebesar 2,24 artinya   balita

yang dirumahnya menggunakan  bahan  bakar  minyak  tanah/kayu  bakar  berpeluang  menderita

ISPA sebesar   2,24   kali   lebih   banyak   dibanding   dengan   balita   yang  

dirumahnya menggunakan bahan bakar gas.30

c.4. Keberadaan Perokok

Rokok bukan hanya masalah perokok aktif tetapi juga perokok pasif. Asap rokok terdiri dari

4.000 bahan kimia, 200 diantaranya merupakan racun antara lain Carbon Monoksida (CO),

Polycyclic Aromatic Hidrocarbons (PAHs) dan lain-lain. Berdasarkan hasil penelitian Pradono

dan Kristanti (2003), secara keseluruhan prevalensi perokok pasif pada semua umur di

Indonesia adalah sebesar 48,9% atau 97.560.002   penduduk.   Prevalensi   perokok   pasif  

pada   laki-laki   32,67%   atau 31.879.188 penduduk dan pada perempuan 67,33% atau

65.680.814 penduduk. Sedangkan perokok aktif pada laki-laki umur 10 tahun ke atas adalah

sebesar 54,5%, pada perempuan 1,2%.
Prevalensi perokok pasif pada balita sebesar 69,5 %, pada kelompok umur 5-9 tahun  sebesar 

70,6%  dan  kelompok  umur  muda  10-14  tahun  sebesar  70,5%. Tingginya prevalensi

perokok pasif pada balita dan umur muda disebabkan karena mereka masih tinggal serumah

dengan orangtua ataupun saudaranya yang merokok dalam rumah. 31
Berdasarkan penelitian Safwan di puskesmas  Alai  Kota Padang  Sumatera Barat  (2003),

dengan menggunakan desain case control, berdasarkan analisis bivariat hubungan kebiasaan

perokok dengan kejadian ISPA pada balita diperoleh nilai p = 0,031  dan  OR  1,81  (CI 

95%;  1,085-2,996).  Hal  ini  menunjukkan  bahwa  ada hubungan antara kepadatan hunian

ruang tidur dengan kejadian ISPA pada balita. OR 1,81 artinya balita yang tinggal dirumah

yang anggota keluarganya mempunyai kebiasaan merokok dalam rumah berpeluang menderita ISPA

sebesar 1,81 kali lebih banyak dibanding dengan balita yang anggota keluarganya tidak

merokok didalam rumah.30



2.7. Pencegahan Penyakit ISPA11,15

2.7.1. Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention)
Ditujukan pada orang sehat dengan usaha peningkatan derajat kesehatan (health promotion)

dan pencegahan khusus (spesific protection) terhadap penyakit tertentu.Termasuk disini

adalah :
a.   Penyuluhan,  dilakukan oleh tenaga  kesehatan dimana kegiatan  ini diharapkan dapat

mengubah sikap dan perilaku masyarakat terhadap hal-hal yang dapat meningkatkan faktor

resiko penyakit ISPA. Kegiatan penyuluhan ini dapat berupa penyuluhan penyakit  ISPA,

penyuluhan ASI Eksklusif, penyuluhan imunisasi, penyuluhan gizi seimbang pada ibu dan anak,

penyuluhan kesehatan lingku ngan, penyuluhan bahaya rokok.
b.   Imunisasi,  yang  merupakan  strategi  spesifik  untuk  dapat  mengurangi  angka

kesakitan ISPA
c.   Usaha di bidang gizi yaitu untuk mengurangi mal nutrisi.
d.   Program KIA yang menangani kesehatan ibu dan bayi berat badan lahir rendah.
e.   Program Penyehatan Lingkungan Pemukiman (PLP)  yang  menangani masalah polusi di dalam

maupun di luar rumah.

2.7.2. Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention)14
Dalam penanggulangan ISPA dilakukan dengan upaya pengobatan dan diagnosis sedini mungkin.

Dalam pelaksanaan program P2 ISPA, seorang balita keadaan penyakitnya termasuk dalam

klasifikasi bukan pneumonia apabila ditandai dengan batuk, serak, pilek, panas atau demam

(suhu tubuh lebih dari 370C), maka dianjurkan untuk segera diberi pengobatan.
Upaya  pengobatan  yang  dilakukan  terhadap  klasifikasi ISPaA  atau  bukan pneumonia 

adalah  tanpa  pemberian  obat  antibiotik  dan  diiberikan  perawatan  di rumah. Adapun

beberapa hal yang perlu dilakukan ibu untuk mengatasi anaknya yang menderita ISPA adalah :

a)  Mengatasi panas (demam)
Untuk balita, demam diatasi dengan memberikan parasetamol atau dengan kompres dengan

menggunakan kain bersih, celupkan pada air (tidak perlu air es).
b)  Pemberian makanan dan minuman
Memberikan makanan yang cukup tinggi gizi sedikit-sedikit tetapi sering., memberi ASI lebih

sering.  Usahakan memberikan cairan (air put ih, air buah) lebih banyak dari biasanya.

2.7.3. Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention) 4
Tingkat pencegahan ini ditujukan kepada  balita yang bukan pneumonia agar tidak menjadi

lebih parah (pneumonia) dan mengakibatkan kecacatan (pneumonia berat) dan  berakhir dengan

kematian.
Upaya yang dapat dilakukan pada pencegahan Penyakit  bukan pneumonia pada bayi dan balita

yaitu perhatikan apabila timbul gejala pneumonia seperti nafas menjadi sesak, anak tidak

mampu minum dan sakit menjadi bertambah parah, agar tidak bertambah parah bawalah anak

kembali pada petugas kesehatan dan pemberian perawatan yang spesifik di rumah dengan

memperhatikan asupan gizi   dan lebih sering memberikan ASI.

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More